Vocational high school students need to maintain religious values while participating in off-campus training, whereas their engagement in religious activities is not always optimal. This program aimed to strengthen Islamic Religious Education among students of SMK Abdul Karim Montong Sapah through spiritual mentoring, pre-training spiritual reinforcement, IMTAQ activities, short religious talks, and WhatsApp-based school–parent collaboration. The program used a school-based educational mentoring approach involving needs mapping, implementation of religious activities, strengthened family communication, and evaluation. Data were collected through observation, interviews with the principal, Islamic Religious Education teachers, students, and parents, as well as documentation, and were analyzed using qualitative descriptive procedures and participation percentages. The results show that the program integrated Qur’an recitation, faith and moral reinforcement, prophetic exemplars, and congregational worship. Specific reinforcement was provided to Grade XI students before off-campus training. Following stronger parent coordination through WhatsApp, active participation increased from approximately 60% to 80%. Key constraints included limited student interest and discipline, schedule conflicts with training, and speaker availability. The program produced a three-layer model consisting of religious habituation, transitional reinforcement before training, and digital school–parent collaboration, offering a practical approach that can be adapted by other vocational schools with similar needs. ABSTRAK Siswa sekolah menengah kejuruan menghadapi kebutuhan untuk mempertahankan nilai agama ketika mengikuti training di luar sekolah, sementara partisipasi dalam kegiatan keagamaan belum selalu optimal. Program ini bertujuan memperkuat Pendidikan Agama Islam (PAI) siswa SMK Abdul Karim Montong Sapah melalui pembinaan rohani, penguatan rohani pra-training, IMTAQ, kultum, serta kolaborasi sekolah–orang tua berbasis WhatsApp. Pelaksanaan menggunakan pendampingan pendidikan berbasis sekolah dengan tahapan pemetaan kebutuhan, pelaksanaan kegiatan keagamaan, penguatan komunikasi keluarga, dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dengan kepala sekolah, guru PAI, siswa, dan wali murid, serta dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dan persentase partisipasi. Hasil menunjukkan bahwa kegiatan penguatan mengintegrasikan materi akidah, akhlak, keteladanan, pembacaan Al-Qur’an, dan ibadah berjamaah. Penguatan khusus diberikan kepada siswa kelas XI sebelum training. Setelah koordinasi dengan orang tua melalui WhatsApp, partisipasi aktif meningkat dari sekitar 60% menjadi 80%. Kendala utama meliputi minat dan kedisiplinan siswa, benturan jadwal training, serta ketersediaan pemateri. Program menghasilkan model tiga lapis berupa pembiasaan religius, penguatan transisional pra-training, dan kolaborasi digital sekolah–orang tua yang berpotensi direplikasi pada sekolah kejuruan dengan karakteristik serupa.
Copyrights © 2024