Media sosial, khususnya Instagram, telah berkembang dari ruang berbagi personal menjadi ruang publik digital yang memungkinkan penyampaian opini, kritik, dan wacana sosial secara luas. Fenomena tersebut terlihat pada konten Instagram Reels @kekekania, seorang diaspora Indonesia di Singapura, yang menyampaikan kritik terhadap peran perempuan di lingkar kekuasaan, khususnya terkait gaya hidup, sikap diam, dan minimnya suara kritis terhadap kondisi bangsa. Konten tersebut menarik perhatian publik dan berdasarkan dokumentasi berupa tangkapan layar pada Mei 2026 telah ditonton sebanyak 9,3 juta kali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana khalayak memaknai pesan kritik sosial diaspora Indonesia pada Instagram Reels @kekekania serta memahami posisi resepsi khalayak berdasarkan model Encoding-Decoding Stuart Hall. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi resepsi. Data diperoleh melalui wawancara terhadap delapan informan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sesuai dengan tujuan penelitian. Data dianalisis berdasarkan tahapan produksi, sirkulasi, penggunaan/pemaknaan, serta posisi pembacaan khalayak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas informan memahami pesan sebagai kritik terhadap minimnya keterlibatan perempuan dalam ruang publik dan politik serta pentingnya perempuan menggunakan pengaruh sosial untuk kepentingan masyarakat. Ditemukan tiga posisi resepsi, yaitu dominant-hegemonic reading, negotiated reading, dan oppositional reading, dengan negotiated reading sebagai posisi yang paling dominan. Khalayak menerima gagasan utama, tetapi tetap mengkritisi cara penyampaian, generalisasi terhadap keluarga pejabat, serta legitimasi diaspora dalam mengkritik kondisi Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa Instagram dapat menjadi ruang kritik sosial dan negosiasi makna yang mendorong kesadaran serta diskusi publik.
Copyrights © 2026