Sosok Prabowo Subianto sebagai figur militer yang keras dan kontroversial, terutama akibat tuduhan pelanggaran hak asasi manusia pada peristiwa 1997–1998, menjadi beban citra yang perlu dipulihkan menjelang Pemilihan Presiden 2024. Penelitian ini mengkaji strategi komunikasi digital Partai Gerindra dalam memulihkan citra Prabowo melalui akun TikTok @partaigerindra, serta pola pesan, visual, dan narasi yang digunakan. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berparadigma konstruktivis dengan desain studi kasus, data primer dihimpun dari delapan video TikTok @partaigerindra yang diunggah September 2023–Desember 2024, ditunjang data sekunder dari jurnal, buku, dan pemberitaan. Analisis difokuskan pada Image Restoration Theory William Benoit sebagai kerangka utama, dengan The Eight Laws of Personal Branding Peter Montoya dan Image Theory sebagai penunjang, serta semiotika Roland Barthes sebagai alat baca tanda. Hasil menunjukkan pemulihan citra dijalankan lewat tiga strategi, yaitu reducing offensiveness melalui bolstering, denial lewat pembingkaian ulang identitas, dan evading responsibility lewat kontekstualisasi peran sebagai pemimpin masa depan. Sebaliknya, mortification, corrective action, attacking the accuser, dan compensation sama sekali tidak digunakan, sehingga tuduhan masa lalu tidak pernah dijawab secara langsung, melainkan ditimpa dengan bahan ingatan baru. Seluruh tanda bermuara pada satu mitos dominan, yaitu “pemimpin rakyat yang dicintai”. Citra gemoy Prabowo terbukti merupakan hasil konstruksi komunikasi sistematis, bukan fenomena viral kebetulan.
Copyrights © 2026