Film sebagai media komunikasi massa tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga mengonstruksikan gambaran sosial yang dapat memengaruhi cara khalayak memahami institusi publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis resepsi khalayak terhadap representasi citra aparat kepolisian dalam film Sayap-Sayap Patah 2: Olivia. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivisme, pendekatan kualitatif deskriptif, dan analisis resepsi berdasarkan model encoding-decoding Stuart Hall. Data diperoleh melalui observasi film, dokumentasi, serta wawancara semi-terstruktur terhadap tujuh informan yang dipilih secara purposif dan memiliki latar belakang media, film, komunikasi, aktivisme, serta masyarakat umum. Data dianalisis melalui pengumpulan, reduksi, penyajian, penarikan kesimpulan, dan klasifikasi pemaknaan ke dalam posisi dominan, negosiasi, dan oposisi. Hasil menunjukkan bahwa posisi khalayak berubah menurut jenis klaim yang dibangun film. Representasi yang bersifat afektif dan universal, seperti peran ayah dan kepedulian terhadap keselamatan warga, cenderung diterima secara dominan. Sebaliknya, representasi kompetensi institusional pada proses investigasi dan interogasi lebih banyak dinegosiasikan atau ditolak karena dianggap terlalu cepat dan ideal. Adegan yang memadukan keputusan humanis dengan tindakan kekerasan juga memunculkan oposisi kuat. Penelitian menyimpulkan bahwa resepsi dipengaruhi bukan hanya oleh latar sosial dan pengalaman, tetapi juga oleh kemampuan penonton menguji plausibilitas klaim film terhadap realitas yang mereka kenal.
Copyrights © 2026