Rendahnya kompetensi siswa sekolah dasar dalam memahami hak dan kewajiban warga negara menunjukkan perlunya pembelajaran yang mendorong keterlibatan aktif, kerja sama, dan pemahaman konseptual. Penelitian ini bertujuan menguji perbedaan kompetensi kewarganegaraan antara siswa yang mengikuti pembelajaran Think Pair Share (TPS) berbantuan Padlet dan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuasi-eksperimen dan desain Posttest Only Control Group Design. Sampel terdiri atas 64 siswa kelas V yang terbagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol, masing-masing 32 siswa. Data dikumpulkan melalui tes kompetensi kewarganegaraan yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis meliputi statistik deskriptif, uji Shapiro-Wilk, uji Levene, Independent Samples t-test, dan Cohen's d dengan IBM SPSS Statistics 27 pada taraf signifikansi 5%. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata kelas eksperimen (M = 84,38; SD = 7,24) lebih tinggi daripada kelas kontrol (M = 75,16; SD = 8,11). Uji t menunjukkan perbedaan yang signifikan, t(62) = 4,812; p < 0,001, dengan Cohen's d = 1,20 yang termasuk kategori efek besar. Temuan ini menunjukkan bahwa, dalam konteks sampel dan desain penelitian ini, penerapan TPS berbantuan Padlet berkaitan dengan capaian kompetensi kewarganegaraan yang lebih tinggi dibandingkan pembelajaran konvensional. Integrasi struktur kooperatif TPS dan ruang kolaboratif Padlet berpotensi mendukung pembelajaran Pendidikan Pancasila yang lebih partisipatif dan berpusat pada siswa
Copyrights © 2026