Pertumbuhan industri kreatif yang pesat menuntut ketersediaan ruang yang tidak hanya menampung aktivitas, tetapi juga memahami perilaku manusia di dalamnya. Penelitian ini mengeksplorasi implementasi konsep arsitektur perilaku dalam desain creative hub. Arsitektur perilaku, sebagai jembatan antara lingkungan binaan dan psikologi manusia, memainkan peran krusial dalam proses pengambilan keputusan di dalam ruang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan studi literatur, yang secara spesifik berfokus pada teori Lury Sofyan Yahya serta studi kasus komparatif Selasar Sunaryo Art Space dan Rolex Learning Center. Temuan menunjukkan bahwa penggunaan warna netral, transparansi, dan bentuk abstrak organik secara signifikan mempengaruhi kenyamanan pengguna dan interaksi sosial. Elemen-elemen ini memberikan “keterjangkauan” dan “kemungkinan”, yang memungkinkan pengguna untuk memutuskan aktivitas mereka secara bebas namun tetap aman. Hasil penelitian ini memberikan kerangka kerja bagi perancangan creative hub yang inklusif dan adaptif.
Copyrights © 2026