Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kajian yang secara khusus membahas representasi etika komunikasi Islam dalam film Sang Pencerah. Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih menitikberatkan pada aspek dakwah, pendidikan Islam, modernisme, dan pesan moral, sehingga dimensi komunikasi Islam dalam film tersebut belum banyak dikaji secara mendalam. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana film Sang Pencerah merepresentasikan etika komunikasi Islam melalui narasi, dialog, dan relasi sosial antartokoh. Penelitian menggunakan paradigma konstruktivis dengan pendekatan transdisipliner yang mengintegrasikan ilmu dakwah, komunikasi, dan studi Al-Qur’an. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis Norman Fairclough melalui analisis teks, praktik diskursif, dan praktik sosial-budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film Sang Pencerah merepresentasikan komunikasi berbasis klarifikasi dan argumentasi sebagai sumber legitimasi perubahan sosial-keagamaan. Film juga menampilkan komunikasi dialogis dan persuasif sebagai sarana negosiasi perbedaan dan pembentukan pemahaman bersama. Selain itu, film berfungsi sebagai medium produksi makna yang mengonstruksi Islam sebagai kekuatan moral dalam pendidikan, perubahan sosial, dan pembangunan masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa etika komunikasi Islam dalam film dibangun atas prinsip klarifikasi, dialog, penghormatan terhadap perbedaan, dan orientasi perbaikan sosial sehingga film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan dan representasi sejarah, tetapi juga sebagai instrumen pendidikan sosial-keagamaan yang relevan bagi pengembangan dakwah dan komunikasi Islam kontemporer.
Copyrights © 2026