Sindrom koroner akut akibat keterlibatan left main coronary artery (LMCA) merupakan kondisi berisiko tinggi dengn mortalitas yang signifikan. Depresi segmen ST difus disertai elevasi aVR dapat meningkatkan kecurigaan terhadap obstruksi LMCA, namun tidak spesifik. Accelerated idioventricular rhythm (AIVR) umumnya jinak pasca-reperfusi, namun maknanya berbeda bila muncul sebelum reperfusi dengan iskemia persisten dan ketidakstabilan hemodinamik. Ilustrasi Kasus: Seorang laki-laki 57 tahun datang dengan nyeri dada akut menjalar ke punggung, keringat dingin, sesak napas, dan agitasi. Tekanan darah sistolik 70 mmHg, frekuensi jantung 65 kali/menit, ekstremitas dingin. EKG menunjukkan ritme idioventrikular tanpa gelombang P dengan QRS melebar (166 ms), depresi segmen ST luas pada II, III, aVF, dan V2–V6, serta elevasi ST 0,5 mm pada aVR. Troponin I 0,71 ng/mL. Diagnosis kerja NSTEMI dengan syok kardiogenik dan kecurigaan tinggi penyakit LMCA kritis atau multivessel berat. Terapi awal diberikan, namun dalam 10 menit pasien mengalami henti jantung dengan pulseless electrical activity (PEA). Resusitasi lima siklus tidak mencapai ROSC. Angiografi tidak dapat dilakukan. Kombinasi iskemia EKG luas, ketidakstabilan hemodinamik, dan deteriorasi cepat menimbulkan kecurigaan kuat terhadap penyakit koroner kritis, khususnya LMCA atau multivessel berat. Namun, karena henti jantung terjadi sebelum angiografi, keterlibatan LMCA hanya merupakan diagnosis dugaan yang tidak terkonfirmasi. Elevasi aVR memiliki nilai diagnostik dan prognostik, tetapi bukan penanda spesifik LMCA. IVR sebelum reperfusi pada pasien syok berat merupakan penanda instabilitas miokard dan hemodinamik yang berat. Kasus ini menggambarkan sindrom koroner akut fulminan dengan syok kardiogenik, idioventricular rhythm, depresi ST difus, dan elevasi aVR subtil, yang berkembang menjadi PEA dan henti jantung dalam 10 menit. Pengenalan dini pola klinis dan EKG berisiko tinggi sangat penting karena jendela terapeutik untuk revaskularisasi sangat sempit.
Copyrights © 2026