Relasi manusia dan alam merupakan bagian penting dalam iman Kristen karena alam dipahami sebagai ciptaan Allah yang dipercayakan kepada manusia untuk dipelihara. Penelitian ini bertujuan menganalisis relasi manusia dan alam sebagai dasar ekoteologi Jemaat GMIM Nazareth Teling Tingkulu dalam perspektif Emanuel Gerrit Singgih. Kajian teoretik berfokus pada empat pokok pemikiran Singgih, yaitu alam sebagai ciptaan Allah, kritik terhadap antroposentrisme, manusia sebagai penatalayan ciptaan, dan ekoteologi sebagai praktik iman. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif naturalistik dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jemaat telah memahami pentingnya menjaga alam sebagai ciptaan Allah dan memiliki semangat gotong royong dalam kehidupan bergereja. Namun, pemahaman tersebut belum sepenuhnya diwujudkan dalam praktik ekologis yang berkelanjutan. Penggunaan bambu dan kayu sebagai bahan dekorasi masih dilakukan tanpa diimbangi penanaman kembali, sementara pemilahan sampah dan pengelolaan bahan dekorasi belum optimal. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pemahaman iman dan praktik ekologis. Penelitian menyimpulkan bahwa pemikiran Emanuel Gerrit Singgih relevan sebagai dasar pengembangan ekoteologi jemaat melalui penguatan tanggung jawab manusia sebagai penatalayan ciptaan dan penerapan tindakan nyata dalam pemeliharaan lingkungan sebagai bagian dari praktik iman.
Copyrights © 2026