Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan pemberdayaan masyarakat untuk mengubah perilaku sanitasi, termasuk penanganan stunting melalui intervensi sensitif. Masalah sanitasi seperti buang air besar sembarangan (BABS) dan kurangnya pengelolaan air minum serta makanan rumah tangga (PAM-RT) berisiko memicu infeksi enterik yang berkontribusi terhadap kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan STBM Pilar 1 (Stop BABS) dan Pilar 3 (PAM-RT) serta hubungannya dengan upaya penurunan stunting di Dusun Waimuli, Negeri Lima. Penelitian analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional ini melibatkan 59 kepala keluarga yang dipilih menggunakan rumus Slovin. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, kemudian dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada rentang usia 31–55 tahun (88,1%) dan berjenis kelamin perempuan (52,5%). Sebanyak 49,2% (29 KK) responden tidak memenuhi syarat pada Pilar 1 (Stop BABS), dan 55,9% (33 KK) tidak memenuhi syarat pada Pilar 3 (PAM-RT). Perilaku BABS di pantai/kali serta penyimpanan makanan dan air minum dalam wadah terbuka menjadi faktor risiko utama penularan infeksi lingkungan di wilayah tersebut. Dapat disimpulkan bahwa penerapan STBM Pilar 1 dan Pilar 3 di Dusun Waimuli masih tergolong rendah sehingga berpotensi menjadi faktor risiko berkembangnya kejadian stunting. Disarankan kepada pihak Puskesmas dan pemerintah negeri untuk meningkatkan pemicuan STBM, pengawasan higiene sanitasi, serta penyediaan sarana sanitasi yang memadai bagi masyarakat
Copyrights © 2026