Artikel ini membahas refleksi teologis terhadap fenomena meningkatnya jumlah lulusan perguruan tinggi di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan di Indonesia. Meningkatnya angka pengangguran di kalangan generasi muda tidak hanya menimbulkan persoalan ekonomi, tetapi juga memicu krisis eksistensial yang berkaitan dengan identitas, martabat, dan harapan akan masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis realitas struktural surplus lulusan dari perspektif teologi Kristen, khususnya melalui doktrin panggilan hidup (vokasi), eskatologi, dan martabat kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka serta desain deskriptif-analitis. Data diperoleh dari literatur teologi, ajaran sosial Gereja, jurnal akademik, serta laporan empiris ketenagakerjaan dari Badan Pusat Statistik dan International Labour Organization. Analisis dilakukan melalui hermeneutika teologis dengan mempertemukan teks-teks teologi dan realitas sosial kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi Kristen menyediakan kerangka moral dan spiritual yang relevan untuk merespons krisis pengangguran kaum muda. Doktrin panggilan hidup menegaskan bahwa identitas manusia tidak semata-mata ditentukan oleh keberhasilan profesi, melainkan oleh relasinya dengan Allah dan sesama. Eskatologi Kristen menawarkan pengharapan yang menguatkan kaum muda untuk bertahan dalam ketidakpastian tanpa kehilangan makna hidup. Sementara itu, teologi kerja menegaskan martabat manusia melampaui produktivitas ekonomi serta mendorong Gereja untuk terlibat dalam pendampingan pastoral, pemberdayaan sosial, dan kritik profetis terhadap struktur ekonomi yang tidak adil. Dengan demikian, Gereja dipanggil bukan hanya untuk memberikan penghiburan spiritual, tetapi juga untuk secara aktif berpartisipasi dalam membangun masa depan yang lebih manusiawi dan bermartabat bagi kaum muda.
Copyrights © 2026