Strategi pemasaran film modern kini semakin agresif menggunakan provokasi visual untuk menembus atensi publik digital, sebagaimana terlihat pada poster film Ghost in the Cell (2026). Penggunaan konsep shock advertising melalui visual wajah berlubang pemicu trypophobia menciptakan ketegangan antara kreativitas estetika dan etika komunikasi. Penelitian ini hadir untuk membedah kedalaman makna simbolis di balik desain ekstrem tersebut sekaligus menilai legitimasinya melalui perspektif etika utilitarianisme. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dan analisis semiotika Roland Barthes, penelitian mengungkap bagaimana tanda visual transgresif merepresentasikan hancurnya identitas manusia dalam sistem sosial yang korup. Hasil analisis menunjukkan bahwa palet warna dingin dan tekstur wajah berlubang merupakan metafora kuat dari dehumanisasi serta keroposnya moralitas di institusi penjara. Secara etis, berdasarkan prinsip the greatest good, penggunaan visual yang mengganggu ini dapat dibenarkan karena manfaat intelektual berupa penyampaian kritik sosial yang jujur melampaui kerugian sensorik sesaat audience. Penelitian menyimpulkan bahwa poster ini berhasil menjadi instrumen komunikasi efektif yang memicu refleksi kritis, meski disarankan adanya penggunaan trigger warning di masa depan untuk menjaga kenyamanan publik.
Copyrights © 2026