Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik self-disclosure influencer mahasiswa Yogyakarta di Instagram serta peran Digital Emotional Intelligence (DEI) dalam konstruksi identitas digital mereka. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, penelitian ini melibatkan tiga influencer mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi konten digital (feeds, reels, story, highlights), serta dokumentasi interaksi audiens melalui komentar dan direct message. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-disclosure dilakukan secara selektif dan strategis, dengan dominasi konten bernilai positif yang mendukung citra diri dan relevansi dengan niche audiens. Interaksi audiens memperlihatkan pola relasi parasosial yang memengaruhi perluasan open self sekaligus menjaga hidden self melalui mekanisme boundary management. Analisis menggunakan kerangka Joseph DeVito menegaskan bahwa dimensi amount, valence, accuracy, intention, dan relevance saling berkontribusi dalam proses pengelolaan identitas digital. Integrasi DEI—meliputi self-awareness and management, relationship management, dan digital empathy—berperan penting dalam mengatur batasan privasi, menjaga kualitas hubungan dengan audiens, serta menumbuhkan kedekatan emosional yang stabil. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa self-disclosure influencer mahasiswa merupakan praktik komunikasi digital yang berlapis, melibatkan konstruksi identitas, performativitas, dan kecerdasan emosional dalam ekosistem media sosial yang kompetitif.
Copyrights © 2026