Tsunami Aceh tahun 2004 meninggalkan dampak jangka panjang, khususnya terhadap kesehatan mental penyintas dengan paparan terparah. Dua dekade setelah bencana, sebagian penyintas masih mengalami tekanan psikologis yang menetap. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi prevalensi kesehatan mental penyintas tsunami Aceh 2004 dengan paparan terparah serta hubungannya dengan karakteristik sosiodemografis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif terhadap 552 penyintas yang dipilih melalui nonprobability sampling dengan teknik purposive sampling dari tujuh wilayah terdampak tsunami, yaitu Aceh Besar, Aceh Barat, Aceh Jaya, Banda Aceh, Sabang, Pidie, dan Nagan Raya. Data dikumpulkan menggunakan Mental Health Inventory-18 (MHI-18) dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 283 responden (51,27%) berada pada kategori kesehatan mental sedang, 256 responden (46,38%) pada kategori tinggi, dan 13 responden (2,35%) pada kategori rendah. Mayoritas penyintas menunjukkan psychological wellbeing yang tinggi, meskipun psychological distress kategori sedang masih ditemukan. Faktor sosiodemografis seperti jenis kelamin, usia saat ini, usia saat bencana, status pernikahan, pendidikan, pendapatan, dan domisili berhubungan signifikan dengan kondisi kesehatan mental penyintas, sedangkan status pekerjaan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa pemulihan kesehatan mental pascabencana merupakan proses jangka panjang yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan individual.
Copyrights © 2026