Manuju : Malahayati Nursing Journal
Vol 8, No 10 (2026): Volume 8 Nomor 10 (2026)

Faktor Status Menstruasi, Usia, Pola Konsumsi Protein Hewani, dan Tempat Tinggal terhadap Status Anemia Remaja Putri Usia 10-18 Tahun (Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023)

Retno Andantya (Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia)
Asih Setiarini (Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia)



Article Info

Publish Date
01 Oct 2026

Abstract

ABSTRACT Anemia among adolescent girls remains a public health problem in Indonesia and may negatively affect physical fitness, learning concentration, and cognitive development. Biological factors, age, animal-source food consumption, and residential characteristics are suspected to be associated with anemia among adolescent girls. This study aimed to analyze the association between menstrual status, age, animal-source protein consumption, and residence with anemia status among Indonesian adolescent girls aged 10–18 years (Indonesian Health Survey (SKI) 2023). This study used a quantitative cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study included 1,732 adolescent girls aged 10–18 years who met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with chi-square tests and weighted according to the SKI 2023 analysis guidelines. The prevalence of anemia among adolescent girls aged 10–18 years was 20.5%, which is still categorized as a moderate public health problem. Bivariate analysis showed that age, animal-source protein consumption, and residence were significantly associated with anemia status (p0.05). Adolescent girls aged 15–18 years had a 1.447 times higher likelihood of anemia compared to those aged 10–14 years (OR=1.447; 95% CI=1.443–1.450). Girls living in rural areas had a 1.178 times higher likelihood of anemia compared to those living in urban areas (OR=1.178; 95% CI=1.176–1.181). Low frequency of animal-source food consumption was also associated with increased odds of anemia, particularly low egg consumption (OR=1.182; 95% CI=1.179–1.185). Age, animal-source protein consumption, and residence were associated with anemia among adolescent girls aged 10–18 years in Indonesia. Comprehensive anemia prevention efforts are needed through nutrition education, increased intake of iron-rich foods, optimization of iron supplementation programs, and strengthening health interventions, particularly in rural areas. Keywords: Anemia, Adolescent Girls, Residence, Animal-Source Protein.  ABSTRAK Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan dapat berdampak pada penurunan kebugaran, konsentrasi belajar, serta perkembangan fisik dan kognitif. Faktor biologis, usia, pola konsumsi protein hewani, dan lingkungan tempat tinggal diduga berhubungan dengan status anemia pada remaja putri. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan status menstruasi, usia, pola konsumsi protein hewani, dan tempat tinggal terhadap status anemia pada remaja putri usia 10–18 tahun di Indonesia (Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder SKI 2023. Sampel penelitian berjumlah 1.732 remaja putri usia 10–18 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan penerapan pembobotan sesuai pedoman analisis data SKI 2023. Proporsi anemia pada remaja putri usia 10–18 tahun sebesar 20,5% dan masih tergolong masalah kesehatan masyarakat kategori moderate. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa usia, pola konsumsi protein hewani khususnya konsumsi telur dan hasil olahannya, dan tempat tinggal berhubungan signifikan dengan status anemia (p0,05). Remaja usia 15–18 tahun memiliki peluang mengalami anemia sebesar 1,447 kali dibandingkan usia 10–14 tahun (OR=1,447; 95% CI=1,443–1,450). Remaja yang tinggal di wilayah perdesaan memiliki peluang anemia sebesar 1,178 kali dibandingkan wilayah perkotaan (OR=1,178; 95% CI=1,176–1,181). Frekuensi konsumsi protein hewani yang rendah juga berhubungan dengan meningkatnya peluang anemia, terutama pada konsumsi telur dan hasil olahannya (OR=1,182; 95% CI=1,179–1,185). Usia, pola konsumsi protein hewani, dan tempat tinggal berhubungan dengan status anemia pada remaja putri usia 10–18 tahun di Indonesia. Upaya pencegahan anemia perlu dilakukan secara komprehensif melalui edukasi gizi, peningkatan konsumsi protein sumber zat besi, optimalisasi suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD), dan penguatan intervensi kesehatan khususnya di wilayah perdesaan. Kata Kunci: Anemia, Remaja Putri, Tempat Tinggal, Pola Konsumsi Protein Hewani.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

manuju

Publisher

Subject

Health Professions Nursing Public Health

Description

MANUJU : Malahayati Nursing Journal merupakan jurnal yang memiliki fokus utama pada hasil penelitian dan ilmu-ilmu di bidang kesehatan yang dikembangkan dengan pendekatan interdispliner dan multidisiplin. Proses penerimaan naskah selalu terbuka setiap waktu, naskah yang sudah disubmit oleh penulis ...