Abstrak: Salah satu indikator krusial dalam SPM adalah Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K4/K6). Target utamanya adalah memastikan setiap ibu hamil mendapatkan pelayanan sesuai standar untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI). Namun, tantangan di lapangan menunjukkan bahwa tenaga kesehatan (bidan desa) memiliki keterbatasan jangkauan dalam memantau setiap ibu hamil secara real-time. Di sinilah peran kader menjadi jembatan vital antara masyarakat dan fasilitas kesehatan. Kader merupakan garda terdepan dalam sistem kesehatan masyarakat di Indonesia. Potensi utama yang dimiliki mitra adalah adanya kedekatan kultural dan geografis kader kesehatan dengan warga masyarakat khusus nya ibu hamil. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader Posyandu dalam mengenali tanda bahaya kehamilan serta melakukan skrining kehamilan berisiko tinggi (risti) serta mengoptimalkan sistem rujukan internal Metode dalam pelaksanan kegiatan ini adalah pelatihan meliputi pemberian materi dan praktek yang dilaksanakan mulai Juni hingga Juli 2026 melalui tiga tahapan utama: (1) Tahap Koordinasi Lintas Sektoral dan Pemetaan Wilayah (11 Juni 2026); (2) Tahap Implementasi dan Pendampingan (Action) yang mencakup pre-test, pelatihan komunikasi efektif,serta sosialisasi penggunaan booklet skrining (24 Juni 2026); dan (3) Tahap Monitoring dan Evaluasi melalui uji validasi klinis serta penyerahan Rencana Tindak Lanjut (16 Juli 2026). berdasarkan hasil pretes dan post tes terdapat peningkatan pengetahuan kader sebesar 90% hal ini terbukti meningkatkan pengetahuan teknis dan keterampilan komunikasi kader dalam mendeteksi kehamilan Risiko Rendah, Tinggi,dan Sangat Tinggi. Pemberdayaan kader yang didukung oleh kolaborasi lintas sektoral dan instrumen skrining terstruktur efektif meningkatkan mutu pengawasan kesehatan maternal secara berkelanjutan di tingkat desa.Abstract: One of the crucial indicators within the Minimum Service Standards (SPM) is Antenatal Care (specifically the K4/K6 visits). The primary objective is to ensure every pregnant woman receives standardized care to reduce the Maternal Mortality Rate (MMR). However, field challenges reveal that healthcare workers specifically village midwives face limitations in monitoring every pregnant woman in real-time. This is where health volunteers (kader) play a vital role, acting as a bridge between the community and healthcare facilities. These volunteers serve on the front lines of Indonesia's public health system. A key asset of this partnership is the cultural and geographical proximity of the health volunteers to community members, particularly pregnant women. This community service initiative aims to enhance the knowledge and skills of Posyandu (Integrated Health Post) volunteers in recognizing pregnancy danger signs, screening for high-risk pregnancies, and optimizing internal referral systems. The activity employs a training methodology comprising both theoretical instruction and practical application, conducted from June to July 2026 across three main stages: (1) Cross-sectoral coordination and area mapping (June 11, 2026); (2) Implementation and mentoring (action phase), including a pre-test, effective communication training, and dissemination of screening booklets (June 24, 2026); and (3) Monitoring and evaluation, involving clinical validation and the submission of a follow-up plan (July 16, 2026). Pre-test and post-test results indicate a 90% increase in volunteer knowledge, demonstrating an improvement in both technical understanding and communication skills regarding the detection of low-risk, high-risk, and very-high-risk pregnancies.
Copyrights © 2026