Uma Lengge di Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, merupakan warisan arsitektur tradisional Suku Mbojo yang pada masa lalu dipakai sebagai lumbung pangan sekaligus hunian dan hingga kini menyimpan nilai sejarah serta filosofi yang kuat. Persoalan yang dihadapi kawasan ini bersifat ganda: komponen tikar pada bangunan lapuk karena paparan cuaca yang berkepanjangan, sementara informasi kepariwisataannya masih disampaikan secara lisan dan cetak sehingga jangkauannya sempit. Pengabdian ini dilaksanakan untuk merestorasi komponen tikar secara partisipatif sekaligus membangun sistem informasi pariwisata berbasis website yang ditautkan dengan kode QR di lokasi. Kegiatan berlangsung pada 29 Juli 2026 di kawasan cagar budaya Uma Lengge, Desa Maria, dengan melibatkan 3 warga, 1 pengrajin anyaman, dan 10 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Kelompok 31 Universitas Muhammadiyah Bima. Pendekatan yang dipakai adalah Participatory Action Research dengan empat tahap, yakni perencanaan partisipatif, aksi, observasi, dan refleksi. Data dihimpun melalui observasi terstruktur, wawancara, dokumentasi, serta angket kemudahan akses informasi, lalu dianalisis secara deskriptif. Kegiatan menghasilkan 56 bidang tikar yang dianyam ulang dan dipasang kembali pada 7 unit Uma Lengge, serta satu situs web informasi pariwisata yang tautannya terhubung ke 12 titik kode QR di area wisata. Temuan ini menunjukkan bahwa perpaduan antara restorasi fisik berbasis gotong royong dan digitalisasi informasi mampu menjaga keaslian cagar budaya sekaligus memperluas jangkauan edukasi kepariwisataannya.
Copyrights © 2026