Artikel ini mengkaji konsep ma'rifah dalam pemikiran Ibnu Athaillah al-Sakandari, ulama sufi abad ke-13 dan tokoh ketiga Tarekat Syadziliyah, serta implikasinya terhadap penguatan paradigma manajemen pendidikan Islam. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan manajemen pendidikan Islam kontemporer yang lebih banyak mengadaptasi kerangka manajerial konvensional tanpa ditopang basis epistemologis yang berakar pada tradisi spiritual Islam sendiri. Dengan pendekatan kualitatif jenis studi kepustakaan (library research), penelitian ini menelaah karya primer Ibnu Athaillah, terutama Al-Hikam al-'Ata'iyyah dan Miftah al-Falah, serta literatur sekunder yang relevan. Analisis dilakukan melalui content analysis dan interpretasi hermeneutis dengan kerangka ontologi, epistemologi, dan aksiologi filsafat ilmu. Hasil kajian menunjukkan bahwa ma'rifah dalam pandangan Ibnu Athaillah merupakan pengetahuan eksperiensial-intuitif tentang Allah yang dicapai melalui penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), bukan semata hasil penalaran rasional, dan berjenjang mengikuti pola pengetahuan dari yang bersifat diskursif menuju penyaksian dan pengalaman langsung. Konsep ini berimplikasi pada paradigma manajemen pendidikan Islam dalam tiga ranah: kepemimpinan pendidikan berbasis nilai spiritual, pengembangan kurikulum berbasis epistemologi integratif, serta pembentukan karakter pendidik sebagai murabbi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ma'rifah dapat menjadi basis epistemologis alternatif bagi pengembangan budaya organisasi pendidikan Islam yang lebih berorientasi pada keseimbangan antara capaian terukur dan kedalaman spiritual. Kata Kunci: ma'rifah; Ibnu Athaillah; epistemologi sufistik; manajemen pendidikan Islam; filsafat ilmu.
Copyrights © 2026