Stroke adalah fase akut disfungsi neurologis fokal yang berlangsung selama lebih dari 24 jam. Komplikasi utama pada stroke akut adalah disfagia atau gangguan menelan. Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengekspolarasi dampak implementasi modifikasi diet berbasis kerangka kerja International Dysphagia Diet Standardisation Initiative (IDDSI) dalam penatalaksanaan terapi gizi pasien stroke dengan disfagia. Kasus adalah seorang perempuan berumur 50 tahun dengan diagnosis medis stroke iskemik transformasi perdarahan, hipertensi, disertai diabetes mellitus (DM) tipe 2. Hasil asesmen gizi didapatkan skrining disfagia positif, asupan energi dan zat gizi tidak adekuat, intoleransi laktosa, hiperkolesterolemia dan hiperglikemia. Diagnosis gizi kasus antara lain; 1) (NI-1.2) asupan energi tidak adekuat berkaitan penurunan kemampuan untuk mengonsumsi energi yang cukup ditandai asupan energi berdasarkan food-recall 24 jam didapatkan 53% kebutuhan dan gangguan menelan, 2) (NI-5.8.2) kelebihan asupan karbohidrat berkaitan dengan ketidakpatuhan menjalankan diet ditandai estimasi asupan karbohidrat berdasarkan SQ-FFQ 262g (118% kebutuhan), GDP/GD2pp: 172/183 mg/dl, HBa1c: 8.8%. Intervensi pada hari pertama diberikan asupan enteral 6x200 ml, hari kedua diberikan 3x250 dan 3x150 ml formula DM bebas laktosa rute Naso-Gastric Tube (NGT) dilanjutkan latih menelan menggunakan Disfagia Kit. Hari ketiga pasien diberikan diet DM rute oral dengan tekstur makanan yang disesuaikan kondisi disfagia pasien yakni puree (Level 4), hari keempat moist and mince (Level 5), hari kelima soft and bite size (Level 6), dan hari keenam easy to chew (Level 7) dengan penambahan diet Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH). Implementasi modifikasi diet berbasis IDDSI ini mampu mencegah risiko aspirasi dan memenuhi kebutuhan energi adekuat secara bertahap sesuai kondisi disfagia serta mendukung peningkatan kemampuan menelan pasien yang disertai dengan kolaborasi antar Profesional Pemberi Asuhan (PPA).
Copyrights © 2026