Runtuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024 mengubah lanskap keamanan Suriah dan membuka ruang baru bagi keterlibatan aktor regional, terutama Turki. Artikel ini menganalisis kepentingan nasional Turki dalam rekonstruksi keamanan Suriah pasca-Assad. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, artikel ini memanfaatkan studi pustaka terhadap literatur akademik, dokumen resmi, dan laporan media yang telah digunakan dalam penelitian awal. Kerangka analisis dibangun melalui neorealisme ofensif dan geopolitik shatterbelt. Temuan artikel menunjukkan bahwa keterlibatan Turki tidak dapat dipahami semata-mata sebagai bantuan rekonstruksi pascakonflik. Keterlibatan tersebut merupakan strategi keamanan yang diarahkan untuk mengendalikan dampak kekosongan kekuasaan di Suriah, menekan ancaman kelompok bersenjata Kurdi, mempertahankan zona penyangga di perbatasan, memengaruhi susunan keamanan baru Suriah, serta membuka kembali jalur ekonomi kawasan. Dalam perspektif neorealisme ofensif, Turki memaksimalkan pengaruhnya sebelum aktor lain mengisi ruang strategis yang ditinggalkan rezim Assad. Dalam perspektif geopolitik, Suriah pasca-Assad memperlihatkan ciri shatterbelt karena menjadi ruang rapuh tempat kepentingan lokal, regional, dan eksternal bertemu. Artikel ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi keamanan Suriah bagi Turki adalah bagian dari strategi pertahanan jauh ke depan yang menggabungkan kepentingan keamanan nasional, pengaruh regional, dan stabilisasi kawasan.
Copyrights © 2025