Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) di Bali memperlihatkan proses adaptasi budaya melalui elemen-elemen interior yang mengintegrasikan simbolisme tradisional Tionghoa dengan estetika lokal Bali. Ornamentasi, warna simbolik, material, tata ruang, dan ikonografi religius tidak hanya membentuk karakter ruang ibadah, tetapi juga berperan dalam mempertahankan keberlanjutan makna budaya di tengah perubahan konteks sosial dan budaya. Meskipun berbagai penelitian telah membahas TITD dari perspektif sejarah, arsitektur, dan identitas budaya, kajian yang menempatkan elemen interior sebagai strategi desain dalam mendukung cultural sustainability masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk-bentuk hibriditas pada elemen interior serta menganalisis bagaimana proses adaptasi dan negosiasi desain berkontribusi terhadap keberlanjutan budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui photo-ethnography, observasi lapangan, dokumentasi visual, dan wawancara semi-terstruktur pada empat TITD di Bali yang dianalisis menggunakan thematic analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hibriditas diwujudkan melalui reinterpretasi ornamentasi, material, warna simbolik, dan ikonografi religius sehingga menghasilkan konfigurasi interior yang adaptif tanpa menghilangkan kontinuitas makna simbolik tradisi Tionghoa. Temuan ini menunjukkan bahwa adaptasi, negosiasi, dan reinterpretasi elemen interior merupakan strategi desain yang memungkinkan cultural sustainability diwujudkan melalui keberlanjutan makna budaya, bukan melalui pelestarian bentuk visual secara literal. Penelitian ini memperluas pemahaman mengenai peran desain interior sebagai media adaptasi budaya pada ruang ibadah multikultural.
Copyrights © 2026