Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi sehingga diperlukan upaya komunikasi risiko yang efektif untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Mahasiswa sebagai kelompok terdidik memiliki peran strategis dalam membangun budaya sadar bencana melalui berbagai kegiatan sosial dan edukasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman risiko bencana, mengidentifikasi hambatan komunikasi risiko, serta merumuskan strategi komunikasi yang efektif pada Paguyuban Penerima Beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) Universitas Airlangga periode 2024/2025. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi terhadap enam informan yang mewakili struktur organisasi KSE Universitas Airlangga. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anggota KSE Universitas Airlangga memiliki pemahaman yang cukup baik mengenai risiko bencana, namun tingkat kesadaran dan sense of urgency terhadap isu kebencanaan masih belum merata. Rendahnya pengalaman langsung terhadap bencana serta kesibukan akademik menjadi hambatan dalam komunikasi risiko. Penelitian ini menemukan bahwa strategi komunikasi berbasis pengalaman langsung (learning by doing), pemanfaatan media sosial, kolaborasi dengan lembaga terkait, serta pendekatan komunikasi partisipatif menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan bencana di kalangan mahasiswa. Temuan ini menunjukkan bahwa komunitas mahasiswa memiliki potensi sebagai agen perubahan dalam memperkuat budaya mitigasi bencana di lingkungan kampus dan masyarakat.
Copyrights © 2026