Indragiri Hilir atau Inhil berada di Provinsi Riau, tempat bermukimnya mayoritas orang Banjar yang nenek moyangnya berasal dari Banjarmasin. Inhil dikenal sebagai kota “seribu parit”, “negeri hamparan kelapa”,dan “seribu jembatan”, karena terdapat banyak sungai kecil, pohon kelapa dan jembatan ketika memasuki kabupaten Inhil. Transportasi umumnya menggunakan sungai dan laut. Inhil terkesan unik karena mirip dengan kota Banjarmasin. Bahasa Banjar dan budaya Banjar terasa hidup di wilayah ini. Orang Banjar yang ada di Inhil pada umumnya keturunan Orang Banjar dari Banjarmasin. Meskipun orang Banjar di Inhil hidup bergandengan dengan berbagai suku dan etnis lainnya, namun budaya Banjar tetap mereka lestarikan, misalnya pelaksanaan aruh ganal dengan menghadirkan gubernur Kalimantan Selatan ke Tembilahan, ibu kota Inhil. Tujuan penulisan ini mendeskripsikan keagamaan dan budaya Banjar yang tetap bertahan (survive) di Riau. Beragam budaya Banjar di Inhil Riau sarat dengan makna, ini merupakan local wisdom-nya orang Banjar. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, pengumpulan data melalui wawancara, buku, jurnal, hasil penelitian, makalah, dan media sosial terkait orang Banjar. Analisis data melalui teori Georg Simel tentang Kebudayaan Objektif. Hasil dari penelitian ini menggambarkan bahwa orang Banjar di Inhil adalah kumpulan masyarakat sederhana yang religius dan moderat, sehingga mudah diterima oleh masyarakat di sekitarnya. Mereka memiliki “Kebudayaan Objektif” sebagai manifestasi diri yang terintegrasi dengan alam, dan Tuhan. Terdapat energi yang kuat, pada orang Banjar di Inhil dalam mempertahankan identitas diri mereka, yaitu melalui pelestarian budaya warisan nenek moyang mereka yang berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, sehingga mereka mampu survive (bertahan), dan menjadi miniaturnya Banjarmasin di Provinsi Riau
Copyrights © 2025