ABSTRAKKelompok Tani Tumpang Sari di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, beranggotakan 12 petani padi dan singkong dengan produktivitas sekitar 5 ton/ha, biaya produksi sekitar Rp15.000.000/ha, dan harga jual sekitar Rp5.000/kg karena hasil panen dijual borongan kepada tengkulak. Kegiatan ini bertujuan memperkuat Food Hub Desa berbasis zakat produktif untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan, pengelolaan usaha, nilai tambah produk, dan akses pasar kelompok tani. Kegiatan menggunakan pendekatan partisipatif melalui enam tahap, yaitu pemetaan masalah, penguatan kelembagaan, penerapan teknologi produksi dan pascapanen, pengembangan nilai tambah, penguatan pemasaran, serta monitoring dan evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan pre-test dan post-test pada empat materi pelatihan serta asesmen keberdayaan pada enam dimensi. Hasil menunjukkan rata-rata skor pengetahuan peserta meningkat pada pembukuan usaha dari 10,0% menjadi 75,0%, digital marketing dari 6,7% menjadi 74,2%, pengemasan produk dari 17,0% menjadi 80,0%, dan pengolahan singkong dari 20,0% menjadi 81,7%. Skor keberdayaan kelompok naik dari 24,4% menjadi 82,5%. Program juga menghasilkan Unit Usaha Food Hub Desa Malaka yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala Desa Nomor 39 Tahun 2026 dan kepengurusan pengelola zakat berbasis masjid. Dampak ekonomi berupa produktivitas, harga jual, dan pendapatan masih diukur setelah panen dan penjualan. Temuan ini menunjukkan bahwa zakat produktif lebih efektif apabila dipadukan dengan penguatan kelembagaan, teknologi pascapanen, pengolahan, dan akses pasar.Kata kunci: Food Hub Desa, pangan, pemberdayaan, petani, zakat produktif. ABSTRACTThe Tumpang Sari Farmers Group in Malaka Village, Pemenang District, North Lombok Regency, consists of 12 rice and cassava farmers with a productivity of about 5 tons/ha, production costs of about IDR 15,000,000/ha, and a selling price of about IDR 5,000/kg, since harvests are sold in bulk to middlemen. This community service program aimed to strengthen a productive zakat-based Village Food Hub to improve the institutional capacity, business management, product value added, and market access of the farmer group. A participatory approach was applied through six stages: problem mapping, institutional strengthening, production and post-harvest technology, value-added development, marketing strengthening, and monitoring and evaluation. Evaluation used pre-tests and post-tests on four training topics and an empowerment assessment covering six dimensions. The average knowledge score of participants increased in business bookkeeping from 10.0% to 75.0%, digital marketing from 6.7% to 74.2%, product packaging from 17.0% to 80.0%, and cassava processing from 20.0% to 81.7%. The group empowerment score rose from 24.4% to 82.5%. The program also established the Malaka Village Food Hub Business Unit through Village Head Decree No. 39 of 2026 and a mosque-based zakat management board. Economic impacts on productivity, selling price, and income are still being measured after harvest and sales. These findings indicate that productive zakat is more effective when combined with institutional strengthening, post-harvest technology, processing, and market access. Keywords: empowerment, farmers, food, productive zakat, Village Food Hub.
Copyrights © 2026