ABSTRAKPengelolaan limbah kotoran kambing di Desa Jegreg, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan masih belum dilakukan secara optimal sehingga potensi pemanfaatannya sebagai sumber daya pertanian belum dimanfaatkan secara maksimal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengolah limbah kotoran kambing menjadi pupuk organik cair serta mendorong penerapan pengelolaan limbah yang mendukung pertanian berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan melalui sosialisasi, penyuluhan, demonstrasi, praktikum pembuatan pupuk organik cair, dan pendampingan. Mitra kegiatan terdiri atas 20 orang petani Desa Jegreg dengan dukungan 18 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Islam Darul ‘Ulum Lamongan sebagai fasilitator. Evaluasi dilakukan menggunakan metode pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta, disertai observasi dan praktik langsung selama kegiatan berlangsung. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rata-rata tingkat pengetahuan peserta meningkat dari 49,6% sebelum pelatihan menjadi 89,0% setelah pelatihan atau mengalami peningkatan sebesar 39,4%. Peningkatan tertinggi terjadi pada pemahaman mengenai bahan dan alat pembuatan pupuk organik cair serta proses fermentasi, masing-masing sebesar 44,0%. Peserta juga mampu mempraktikkan proses pembuatan pupuk organik cair secara mandiri mulai dari persiapan bahan, fermentasi, hingga aplikasi pada tanaman. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan limbah peternakan dapat meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus mendukung praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.Kata kunci: Pemberdayaan Masyarakat; Pupuk Organik Cair; Kotoran Kambing; Pertanian Berkelanjutan. ABSTRACTThe management of goat manure waste in Jegreg Village, Modo District, Lamongan Regency, has not yet been optimized; consequently, its potential as an agricultural resource remains underutilized. This community service initiative aimed to enhance farmers' knowledge and skills in processing goat manure into liquid organic fertilizer and to encourage waste management practices that support sustainable agriculture. The activities included awareness-raising sessions, educational outreach, demonstrations, hands-on practice in producing liquid organic fertilizer, and ongoing guidance. The project involved 20 farmers from Jegreg Village, supported by 18 students from the Darul ‘Ulum Islamic University Lamongan’s Community Service Program (KKN) acting as facilitators. Evaluation was conducted using pre-test and post-test methods to measure the increase in participants' knowledge, complemented by observation and practical application during the activities. The results showed that the participants' average knowledge level rose from 49.6% before the training to 89.0% afterward—an increase of 39.4%. The most significant gains were observed in the understanding of materials and equipment for liquid organic fertilizer production and the fermentation process, with each area showing a 44.0% improvement. Participants also demonstrated the ability to independently carry out the production process, ranging from material preparation and fermentation to application on crops. This initiative demonstrates that community empowerment based on the utilization of livestock waste can enhance community capacity while simultaneously supporting more environmentally friendly and sustainable agricultural practices.Keywords: Community Empowerment; Liquid Organic Fertilizer; Goat Manure; Sustainable Agriculture.
Copyrights © 2026