Mitra kegiatan ini adalah usaha mikro abon ayam Waroeng Jago di Pecatu, Kuta Selatan, Badung, yang menghadapi dua masalah utama: pengadukan abon selama penggorengan masih dilakukan secara manual selama 2–3 jam per siklus produksi sehingga menyita tenaga pemilik usaha, serta pemasaran yang masih konvensional tanpa identitas produk dan media digital. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan efisiensi tenaga kerja pada proses produksi dan kesiapan mitra dalam pemasaran digital. Pendekatan partisipatif dilaksanakan melalui sosialisasi, serah terima dan pelatihan penggunaan alat pengaduk abon otomatis (motor DC 15 W dengan gearbox dan pengatur kecepatan), pelatihan pelabelan dan kemasan pouch, pelatihan pemasaran melalui Instagram dan TikTok, serta pendampingan dan evaluasi sebelum–sesudah menggunakan observasi, wawancara, dan kuesioner kepuasan (n = 6). Hasil menunjukkan bahwa pengadukan selama ±2 jam penggorengan kini berlangsung otomatis sehingga pemilik tidak lagi mengaduk secara terus-menerus dan dapat mengerjakan pengemasan serta pelabelan secara paralel. Produk yang sebelumnya dijual dalam kotak plastik polos 150 g kini dikemas dalam pouch berlabel merek Waroeng Jago. Mitra telah memiliki akun Instagram @waroeng.jago dan TikTok @waroengjago yang mulai digunakan untuk membuka pesanan. Sebanyak 76,7% penilaian kepuasan berada pada kategori sangat puas dan 23,3% puas (rerata 3,77 dari 4). Peningkatan kapasitas produksi, omzet, dan dampak penjualan dari media sosial belum dapat disimpulkan karena periode pemantauan masih singkat; oleh karena itu, pencatatan produksi dan penjualan serta pemantauan analitik media sosial direkomendasikan sebagai tindak lanjut. Chicken Floss Business Empowerment through Appropriate Technology and Digital Marketing Strengthening in South Kuta, Badung Abstract The partner of this program is Waroeng Jago, a micro-scale chicken floss (abon ayam) business in Pecatu, South Kuta, Badung, which faced two main problems: stirring during frying was still done manually for 2–3 hours per production cycle, tying up the owner's labour, and marketing remained conventional, without a product identity or digital media. The program aimed to improve labour efficiency in production and the partner's readiness for digital marketing. A participatory approach was implemented through socialisation, handover of and training on an automatic chicken floss stirrer (15 W DC motor with a gearbox and speed control), labelling and pouch-packaging training, Instagram and TikTok marketing training, and mentoring and before–after evaluation using observation, interviews, and a satisfaction questionnaire (n = 6). Stirring during the approximately 2-hour frying stage is now automatic, so the owner no longer needs to stir continuously and can carry out packaging and labelling in parallel. Products previously sold in plain 150 g plastic boxes are now packed in pouches bearing the Waroeng Jago brand label. The partner now has an Instagram account, @waroeng.jago, and a TikTok account, @waroengjago, which have begun to be used to take orders. Overall, 76.7% of satisfaction ratings were very satisfied and 23.3% satisfied (mean 3.77 out of 4). Increases in production capacity, turnover, and social-media-driven sales cannot yet be concluded because the monitoring period was short; systematic production and sales records and social media analytics monitoring are therefore recommended as follow-up actions.
Copyrights © 2026