Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi fleksibilitas spasial pada tipologi pondok pesantren dalam mewadahi tiga aktivitas utama (berhuni, belajar, beribadah) yang tumpang tindih secara simultan. Melalui metode kualitatif deskriptif-komparatif terhadap tiga studi kasus pondok pesantren kontemporer, studi ini menelaah bagaimana keterbatasan lahan memicu kompleksitas aktivitas harian yang berdampak pada munculnya tumpang tindih fungsi di ruang komunal. Hasil penelitian didiskusikan dalam tiga argumen temuan konseptual utama. Pertama, fleksibilitas spasial aktual dalam dinamika aktivitas harian santri berfungsi sebagai instrumen pertahanan sosial guna mereduksi konflik psikologi-spasial akibat tumpang tindihnya fungsi berhuni, belajar, dan beribadah. Kedua, penerapan strategi batas baur (blurred boundaries) dan denah terbuka (open plan) bertindak sebagai agen dekonstruksi tipologi arsitektur institusional konvensional yang kaku, sehingga memicu fluiditas ruang yang adaptif terhadap siklus temporal aktivitas. Ketiga, integrasi sistem modularitas berbasis grid skala manusia bukan lagi sebatas alat efisiensi konstruksi material, melainkan manifestasi keberlanjutan arsitektur (architectural sustainability) yang memfasilitasi tindakan rekonfigurasi mandiri oleh pengguna secara jangka panjang. Melalui pemetaan tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa fleksibilitas modular mampu mentransformasikan ruang privat-publik komunal yang awalnya kaku menjadi platform hunian kolektif yang responsif.
Copyrights © 2026