Hipertensi pada lansia memerlukan pengelolaan yang tidak hanya berfokus pada terapi medis, tetapi juga pada kemampuan self-management, pengelolaan stres, kepatuhan terhadap pengobatan, serta dukungan sosial. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kemampuan lansia dalam mendukung pengelolaan hipertensi melalui penerapan Model Autosugesti RAVS (Reframing, Relaxation, Affirmation, Visualization, dan Spirituality Reflection). Kegiatan dilaksanakan di Desa Daon, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang, dengan melibatkan 27 lansia serta dukungan kader Posbindu dan keluarga. Metode menggunakan pendekatan Participatory Community Empowerment melalui tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pelaksanaan meliputi edukasi hipertensi, demonstrasi dan praktik RAVS, pendampingan selama 4 minggu sebanyak 12 sesi, monitoring, serta evaluasi melalui pengukuran pengetahuan, tekanan darah, kualitas hidup, kepatuhan pengobatan, dan capaian penerapan RAVS. Hasil menunjukkan capaian penerapan RAVS yang relatif baik, dengan skor tertinggi pada relaksasi dan pernapasan (3,31) serta terendah pada pemahaman materi (2,92). Skor pengetahuan meningkat dari 2,07 menjadi 2,65 pada pengukuran akhir, sedangkan tekanan darah berubah dari 144,59/85,37 mmHg pada baseline menjadi 131,48/78,19 mmHg pada pengukuran terakhir. Skor kepatuhan pengobatan meningkat dari 2,02 menjadi 3,88, dan kualitas hidup meningkat dari 1,94 menjadi 2,85. Selain itu, sedikitnya lima kader Posbindu dilatih untuk mendukung pendampingan bagi lansia. Hasil tersebut menunjukkan bahwa RAVS berpotensi menjadi pendekatan psikospiritual pendukung dalam pemberdayaan lansia hipertensi berbasis komunitas. Temuan ini perlu ditafsirkan sebagai perubahan selama pelaksanaan program, bukan sebagai bukti hubungan kausal, karena kegiatan ini tidak menggunakan kelompok pembanding
Copyrights © 2026