Saloka merupakan bentuk peribahasa metaforis yang menggunakan berbagai ranah, antara lain sumber dari dunia hewan, benda, atau alam untuk menjelaskan ranah sasaran berupa perilaku, karakter, watak, atau kondisi sosial manusia. Penelitian ini mengkaji logika analogis dalam saloka bahasa Jawa membangun dan merepresentasikan realitas sosial masyarakat penuturnya dengan menggunakan kerangka Metafora Konseptual dari Lakoff dan Johnson. Penelitian ini menggunakan kualitatif-deskriptif diterapkan pada korpus saloka yang diperoleh dari sumber tertulis (kumpulan peribahasa Jawa baku) dan konfirmasi lisan dari penutur asli bahasa Jawa. Hasil analisis menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, terdapat peta metafora yang dominan, yakni manusia adalah hewan (misal: kacang ora ninggal lanjaran), manusia adalah tumbuhan (misal: alang-alang mangan sambak), dan interaksi sosial adalah perjalanan. Kedua, logika analogis dalam saloka tidak bersifat universal, melainkan terikat pada skema pengalaman sensoris dan nilai budaya Jawa, seperti konsep rukun, hormat, sungkan, ewuh pakewuh, dan tepa slira. Ketiga, saloka berfungsi tidak hanya sebagai pernyataan keindahan, tetapi sebagai instrumen kritik sosial yang halus sekaligus penguat kohesi komunitas melalui pemaknaan bersama. Secara filosofis, temuan ini menolak pandangan bahwa metafora hanyalah hiasan saja; sebaliknya saloka membuktikan bahwa bahasa Jawa membentuk cara berpikir analogis yang secara ontologis merekonstruksi realitas sosial. Studi ini menyimpulkan bahwa saloka Jawa merupakan bukti empiris bagi tesis relativitas linguistik versi lemah: struktur metaforis bahasa memengaruhi sekaligus merefleksikan pola relasi sosial dalam masyarakat Jawa. Implikasinya, pendidikan karakter dan analisis wacana budaya Jawa perlu memulihkan kesadaran atas logika analogis yang tersimpan dalam saloka
Copyrights © 2026