Dekolorisasi pewarna sintetis oleh bakteri merupakan salah satu pendekatan biologis yang dapat digunakan untuk mengurangi warna pada limbah yang mengandung pewarna. Penelitian ini bertujuan membandingkan kemampuan tiga strain bakteri, yaitu Bacillus velezensis IBLTT_1, B. cereus IBLTT_5, dan Enterococcus faecalis, dalam mendekolorisasi naftol merah dan naftol biru. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan dua faktor, yaitu strain bakteri dan jenis pewarna, dengan empat ulangan biologis pada setiap kombinasi perlakuan. Dekolorisasi dievaluasi setelah inkubasi selama 48 jam berdasarkan persentase dekolorisasi dan laju dekolorisasi, sedangkan efisiensi relatif dekolorisasi digunakan sebagai parameter deskriptif. Data persentase dan laju dekolorisasi dianalisis menggunakan Two-Way ANOVA setelah pengujian asumsi dan transformasi data sesuai kebutuhan, dengan uji lanjut Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa E. faecalis memiliki persentase dekolorisasi tertinggi terhadap naftol merah (80,03 ± 0,18%) dan naftol biru (93,68 ± 0,81%), sedangkan B. velezensis IBLTT_1 menunjukkan persentase dekolorisasi 73,22 ± 1,12% dan 30,73 ± 1,17%, serta B. cereus IBLTT_5 sebesar 50,28 ± 1,34% dan 66,96 ± 2,24% terhadap naftol merah dan naftol biru. Strain bakteri, jenis pewarna, dan interaksi keduanya berpengaruh signifikan terhadap persentase dan laju dekolorisasi (P < 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan dekolorisasi berbeda antarstrain dan bergantung pada jenis pewarna. Namun, hasil dekolorisasi tidak dapat secara langsung diinterpretasikan sebagai biodegradasi karena produk transformasi dan aktivitas enzim yang terlibat tidak dianalisis.
Copyrights © 2026