Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh elemen Fraud Heptagon yang terdiri atas pressure, opportunity, rationalization, competence, arrogance, culture, dan religiosity terhadap kecurangan laporan keuangan pada perusahaan sektor infrastruktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan, laporan tahunan, dan laporan keberlanjutan perusahaan selama periode 2020–2024. Sampel penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling dan menghasilkan 30 perusahaan yang memenuhi kriteria penelitian. Kecurangan laporan keuangan diukur menggunakan Beneish M-Score, sedangkan pengujian hipotesis dilakukan melalui analisis regresi data panel dengan bantuan EViews 9. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pressure, opportunity, rationalization, competence, arrogance, culture, dan religiosity secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan. Secara simultan, seluruh elemen Fraud Heptagon juga tidak berpengaruh signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan. Nilai koefisien determinasi sebesar 0,085 menunjukkan bahwa model penelitian mampu menjelaskan 8,5% variasi kecurangan laporan keuangan, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa Fraud Heptagon memiliki daya jelas yang relatif terbatas dalam mendeteksi kecurangan laporan keuangan pada perusahaan sektor infrastruktur di Indonesia. Penelitian ini memberikan implikasi bagi pengembangan model deteksi fraud dengan mempertimbangkan faktor tata kelola perusahaan, kualitas audit, kondisi keuangan, serta faktor makroekonomi yang relevan dalam penelitian selanjutnya.Kata kunci: : kata kunci dituliskan dalam 3 - 6 kata/frasa yang sebaiknya merupakan subset dari judul manuskrip dan dipisahkan dengan tanda baca koma untuk antar kata/frasa.
Copyrights © 2026