Relasi antara akal dan wahyu merupakan salah satu persoalan fundamental dalam pemikiran Islam, khususnya dalam kajian akidah dan filsafat Islam. Akal memiliki kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengembangkan pengetahuan mengenai realitas, sedangkan wahyu menjadi sumber pengetahuan transenden yang memberikan petunjuk mengenai kebenaran-kebenaran keagamaan yang tidak seluruhnya dapat dijangkau oleh kemampuan rasional manusia. Persoalan muncul ketika akal dan wahyu dipahami sebagai dua sumber yang saling bertentangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kedudukan akal dan wahyu dalam pembentukan akidah serta mengkaji pemikiran Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd mengenai hubungan keduanya. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan pendekatan filosofis. Data diperoleh dari karya-karya pemikiran Islam, artikel jurnal ilmiah, serta sumber akademik yang membahas epistemologi, akidah, filsafat Islam, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akal dan wahyu tidak semestinya diposisikan sebagai dua sumber yang antagonistik. Al-Ghazali memberikan penekanan terhadap otoritas wahyu, terutama dalam persoalan metafisika dan prinsip-prinsip akidah, tetapi tetap memberikan ruang penting bagi demonstrasi rasional yang valid. Sementara itu, Ibnu Rusyd menekankan bahwa demonstrasi rasional yang benar tidak akan bertentangan dengan wahyu yang benar. Dengan demikian, relasi akal dan wahyu dapat dipahami secara integratif: wahyu memberikan orientasi dan batas epistemologis bagi akal, sedangkan akal membantu manusia memahami, menginterpretasikan, dan mengaktualisasikan kandungan wahyu. Relasi integratif tersebut relevan untuk memperkuat akidah umat Islam dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, sekularisasi pemikiran, dan kompleksitas pemikiran keagamaan kontemporer.
Copyrights © 2026