Nikel menjadi komoditas strategis karena perannya dalam industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik, dan Indonesia menghasilkan sekitar 67% produksi nikel tambang dunia pada 2025. Penelitian ini juga menganalisis keunggulan sumber daya alam Indonesia dalam perdagangan nikel global berdasarkan Teori Heckscher-Ohlin dan menilai batas penjelasan teori tersebut. Penelitian imi menggunakan metode kualitatif dengan studi literatur dan analisis deskriptif-analitis terhadap data sekunder, termasuk data produksi dan cadangan nikel dunia dari U.S. Geological Survey (2022 dan 2026). Hasil menunjukkan bahwa Indonesia memegang sekitar 44% cadangan nikel dunia, sehingga posisi produksinya sejalan dengan prediksi dasar teori. Namun, pangsa produksi Indonesia secara konsisten melampaui pangsa cadangannya (rasio sekitar 1,5), produksinya meningkat sekitar 3,4 kali lipat antara 2020 dan 2025, dan negara – negara dengan cadangan besar seperti Australia dan Brasil justru berproduksi kecil. Pemeriksaan terhadap asumsi teori menunjukkan bahwa teknologi, hambatan perdagangan, mobilitas modal, dan struktur pasar pada kasus nikel Indonesia tidak sesuai dengan asumsi dasar model. Dengan demikian, kelimpahan sumber daya menjelaskan dasar keunggulan Indonesia, sedangkan skala dan kecepatan pemanfaatannya dibentuk oleh modal asing, teknologi, dan kebijakan hilirisasi. Temuan ini juga menunjukkan risiko konsentrasi pasar dan ketergantungan ekspor yang perlu dikelola.
Copyrights © 2026