Discharge planning (DP) pasien trauma di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dilakukan untuk memastikan pasien memahami perawatan lanjutan di rumah. Namun, pada kenyataannya penerapan DP belum maksimal karena situasi di IGD yang bising, suasana kerja yang kacau, sehingga perawat tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memberikan edukasi kepada pasien di IGD RSUD Malang oleh perawat. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan responden sebanyak 45 orang perawat yang diperoleh secara total sampling. Variabel penelitian adalah pelaksanaan DP pada pasien trauma di IGD. Alat ukur berupa kuesioner DP berdasarkan perencanaan pemulangan IDEAL. Data dikumpulkan dengan Google forms dan dianalisis deskriptif dengan SPSS. Hasil menunjukkan bahwa dari 45 responden, sebagian besar pelaksanaan DP berada pada kategori cukup, 24 orang (53,33%), baik, 16 orang (35,56%),dan kategori kurang 5 orang (11,11%). Informasi yang diberikan kepada pasien pada saat DP paling banyak adalah tentang jadwal kontrol di poliklinik karena setelah keluar rumah sakit, terapi selanjutnya dilakukan di poliklinik rumah sakit yang sama atau di pelayanan kesehatan primer, sedangkan yang paling jarang dilakukan adalah menanyakan kembali pemahaman pasien tetang edukasi yang telah diberikan. Kondisi ini terjadi karena beberapa faktor, seperti kondisi pasien yang ingin segera pulang dan terbatasnya waktu perawat dalam melakukan DP. Kesimpulannya semua perawat gawat darurat menerapkan perencanaan pemulangan tetapi dengan kendala yang bermacam-macam, maka disarankan sebaiknya perawat melakukan perencanaan pulang secara lebih holistik dan mengkomunikasikan kepada pasien mengenai hal-hal penting mengenai kondisinya berdasarkan perencanaan pulang IDEAL.
Copyrights © 2026