Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) play a crucial role in strengthening the rural economy through the utilization of indigenous commodities. Randegan Village in Banyumas Regency possesses abundant awak banana harvests; however, the local banana sale chip partner faces constraints in manual slicing capacity, vulnerable non-airtight packaging, absence of brand identity, and commingled financial accounting. This community service program aimed to enhance the production capacity and business independence of the partner through an integrated farm-to-market downstreaming framework. The program was executed over four months, engaging one primary business owner and six production workers using an active participatory approach. The integrated interventions encompassed the introduction of an automatic banana slicing machine with a capacity of 80 kg/hour, packaging innovation utilizing standing pouch zipper locks with certified P-IRT labels, simple financial record-keeping workshops, and digital marketing onboarding. Controlled evaluation across a 30-day post-intervention period revealed a 27.78% increase in monthly revenue (from IDR 36,000,000 to IDR 46,000,000), a 25.00% rise in sales volume, and a 66.67% expansion in both regular customers and retail resellers. Furthermore, the partner's technical competencies improved by 80.00% based on pre-test and post-test assessments. The synergistic combination of appropriate technology, product standardization, and digital marketing proved effective in accelerating the operational independence of indigenous-based MSMEs. ABSTRAK Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memegang peranan krusial dalam memperkuat ekonomi perdesaan melalui pemanfaatan komoditas lokal. Desa Randegan, Kabupaten Banyumas memiliki potensi melimpah berupa pisang awak, namun mitra perajin keripik pisang sale menghadapi kendala kapasitas produksi manual, kemasan rentan remuk, ketiadaan identitas merek, serta pembukuan keuangan yang masih bercampur. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan kemandirian usaha mitra melalui pendekatan hilirisasi terintegrasi dari hulu hingga hilir. Program dilaksanakan selama empat bulan dengan melibatkan satu mitra utama (pemilik usaha) beserta enam tenaga kerja produksi melalui pendekatan partisipatif aktif. Intervensi terpadu mencakup introduksi mesin pengiris pisang otomatis berkapasitas 80 kg/jam, inovasi kemasan standing pouch zipper lock berlabel P-IRT, pelatihan pembukuan keuangan sederhana, dan aktivasi digital marketing. Hasil evaluasi terkontrol selama 30 hari pascaprogram menunjukkan peningkatan omzet bulanan sebesar 27,78% (dari Rp36.000.000 menjadi Rp46.000.000), kenaikan volume penjualan sebesar 25%, serta penambahan pelanggan dan reseller masing-masing sebesar 66,67%. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan praktis mitra meningkat sebesar 80,00% berdasarkan pengukuran pre-test dan post-test. Integrasi teknologi tepat guna, standardisasi produk, dan pemasaran digital terbukti efektif mengakselerasi kemandirian operasional UMKM berbasis kearifan lokal.
Copyrights © 2026