Penelitian ini menganalisis kondisi pembangunan pemuda Buddhis Theravada di Indonesia dan implikasinya terhadap kapasitas kewarganegaraan, dengan mengambil Pemuda Theravada Indonesia (PATRIA) sebagai studi kasus. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif-analitis melalui analisis sekunder atas data survei terhadap 211 responden di 19 provinsi yang dikumpulkan pada 2013–2014. Analisis dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan one-way ANOVA terhadap 53 indikator yang dikelompokkan ke dalam delapan domain pembangunan pemuda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indeks pembangunan pemuda PATRIA mencapai 73,3 pada skala 0–100 dan termasuk kategori tinggi. Pendidikan dan akses media informasi memperoleh skor tertinggi, masing-masing 76,6, sedangkan potensi diri, tenaga kerja, dan hubungan pemuda memperoleh skor terendah, masing-masing 60. Uji ANOVA menunjukkan adanya perbedaan rata-rata yang signifikan antarprovinsi pada seluruh domain (p < 0,05). Domain partisipasi pemuda mencapai skor 73,3, tetapi penelitian awal mengidentifikasi partisipasi politik sebagai indikator yang paling membatasi capaian domain tersebut, sementara aktivitas PATRIA pada periode penelitian lebih berfokus pada kegiatan sosial-keagamaan. Temuan tersebut menunjukkan bahwa capaian pembangunan pemuda tidak dapat secara langsung diperlakukan sebagai ukuran kewarganegaraan. Dalam penelitian ini, pembangunan pemuda dipahami sebagai kondisi yang memungkinkan (enabling conditions) terbentuknya kapasitas kewarganegaraan. Ketidakmerataan aktualisasi kapasitas dan keterlibatan pada berbagai ranah dibaca sebagai pola “kewarganegaraan selektif”, tanpa mengasumsikan hubungan kausal antara kondisi pembangunan pemuda dan praktik kewarganegaraan. Penelitian ini menunjukkan potensi sekaligus keterbatasan penggunaan indeks pembangunan pemuda untuk membaca kapasitas kewarganegaraan pemuda minoritas agama.
Copyrights © 2025