Penelitian living hadis ini penting untuk di analisis, karena living hadis merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai hadis yang hidup dan dipraktikkan dalam sebuah tradisi, budaya, dan perilaku masyarakat. Penelitian ini mengkaji fenomena suguhan ayam sebagai bentuk perhormatan tamu dalam tradisi pembacaan manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani di Desa Sentong, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Tradisi ini telah dilaksanakan turun-temurun di kalangan masyarakat Muslim setempat dan biasa diselenggarakan pada peringatan hari besar Islam, pernikahan, sunatan, kelahiran, maupun kegiatan rutinan warga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis suguhan ayam dalam tradisi manaqib serta mengkaji pandangan masyarakat terhadap praktik penghormatan tamu tersebut sebagai fenomena sosial yang terjadi di Desa Sentong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis living hadis dengan dengan jenis penelitian lapangan, serta menggunakan pendekatan Edmund Husserl untuk mengungkap makna, nilai keagamaan, dan pengalaman hidup yang melandasi tradisi tersebut. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap satu tokoh masyarakat dan enam anggota manaqib sebagai informan utama, kemudian dianalisis melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suguhan ayam, yang oleh masyarakat setempat disebut dengan toron dere (secara harfiah berarti turun darah) dimaknai sebagai simbol syukur dan penghapus dosa-dosa yang telah lalu, sekaligus wujud aktualisasi hadis Nabi tentang memuliakan tamu. Masyarakat memandang tradisi ini sebagai sarana mempererat silaturrahim dan solidaritas sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperkaya khazanah living hadis dengan menghadirkan objek kajian baru (suguhan ayam), serta menjadi rujukan metodologis bagi peneliti lain yang ingin mengkaji fenomena serupa di daerah lain.
Copyrights © 2026