Demonstrasi anarkis di ruang publik meninggalkan dampak psikologis yang signifikan bagi anak-anak, terutama mereka yang secara langsung maupun tidak langsung menyaksikan kekerasan tersebut. Artikel ini menganalisis peran keluarga dalam memulihkan kesehatan mental anak pascainsiden demokrasi anarkis, dengan menggunakan perspektif Pierre Bourdieu, khususnya konsep habitus dan modal sosial. Sebuah studi fenomenologi kualitatif yang dilakukan di area sekitar Gedung Grahadi, Surabaya, menunjukkan bahwa keluarga menggunakan komunikasi suportif, pembentukan nilai, dan penguatan jaringan sosial sebagai strategi utama. Temuan ini menegaskan bahwa keluarga bukan hanya agen perlindungan emosional, tetapi juga pusat rekonstruksi makna bagi anak-anak dalam menghadapi trauma sosial. Artikel ini memberikan implikasi teoretis bagi studi sosiologi keluarga serta rekomendasi praktis untuk memulihkan kesehatan mental anak pascakonflik sosial.
Copyrights © 2026