ISPA masih memberikan beban kesehatan yang besar pada kelompok balita, terutama karena frekuensi kemunculannya yang tinggi serta konsekuensinya bagi proses tumbuh kembang anak. Kerentanan terhadap gangguan tersebut dapat berkaitan dengan keadaan tempat tinggal yang tidak memenuhi standar sanitasi maupun kondisi gizi balita yang kurang optimal. Kajian di wilayah kerja UPTD Puskesmas Banda Raya, Banda Aceh, diarahkan untuk menelaah keterkaitan kedua aspek tersebut dengan kemunculan ISPA pada balita. Pendekatan kuantitatif secara cross-sectional diterapkan kepada 92 responden yang ditetapkan melalui purposive sampling. Informasi diperoleh menggunakan kuesioner, pengamatan langsung, serta dokumentasi, kemudian diolah memakai Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95%. Dari keseluruhan balita, 78,3% tercatat mengalami ISPA, 52,2% responden berada pada kondisi sanitasi lingkungan kurang baik, sedangkan 77,2% balita tergolong memiliki gizi kurang. Perhitungan bivariat memperoleh p=0,010 dan OR=0,51 pada keterkaitan sanitasi lingkungan dengan ISPA, sementara status gizi memperoleh p=0,039 dan OR=3,03. Balita dengan keadaan gizi kurang mempunyai risiko lebih tinggi mengalami ISPA dibandingkan kelompok bergizi normal. Gambaran tersebut menempatkan kualitas sanitasi tempat tinggal dan kecukupan gizi sebagai dua unsur penting yang berkaitan dengan kemunculan ISPA. Pencegahan secara berkesinambungan karena itu perlu mencakup pembenahan sanitasi rumah sekaligus pemenuhan kebutuhan gizi balita.
Copyrights © 2026