Pemerintah Indonesia menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, yang mendorong PT PLN (Persero) berkomitmen mengembangkan sistem ketenagalistrikan berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) serta membangun ekosistem hidrogen hijau di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengoptimasi desain penambahan PLTS di PLTU Banten 1 Suralaya serta mengevaluasi kelayakan ekonomi-teknisnya guna memenuhi kebutuhan energi listrik untuk produksi hidrogen hijau. Metode yang digunakan meliputi simulasi Monte Carlo untuk memproyeksikan defisit energi, pemodelan desain PLTS dengan PVSyst 8.0.6, pemilihan lokasi optimal menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) berdasarkan 4 kriteria dan 4 alternatif lokasi, serta analisis ekonomi-teknik mencakup Biaya Investasi Awal, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PLTS eksisting menghasilkan 37,145 MWh per tahun, sedangkan kebutuhan energi electrolyzer mencapai 178,681 MWh per tahun, dengan defisit harian 383–387 kWh berdasarkan simulasi Monte Carlo. Lokasi Workshop Pemeliharaan terpilih sebagai lokasi optimal dengan bobot 45,0% dan CR 5,0%. Simulasi PVSyst menunjukkan penambahan PLTS di lokasi tersebut menghasilkan 120,04 MWh per tahun, sehingga kebutuhan electrolyzer dapat terpenuhi penuh dari energi terbarukan pada jam 09.00–15.00, namun terjadi surplus energi yang tidak termanfaatkan tanpa BESS. Analisis ekonomi menunjukkan kelayakan proyek dengan Biaya Investasi Awal USD 38.704, NPV USD 4.077, IRR 11,54%, dan Payback Period 7 tahun. Penelitian ini merekomendasikan penambahan BESS untuk mengoptimalkan pemanfaatan energi surya sepanjang hari, serta memberikan saran teknis, kebijakan, dan penelitian lanjutan bagi berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung pengembangan green hydrogen di Indonesia.
Copyrights © 2026