Penelitian ini bertujuan mengkaji representasi satwa dalam kaba Cindua Mato dengan menggunakan pendekatan ekokritik Greg Garrard, khususnya konsep animals. Satwa dalam kaba tidak sekadar hadir sebagai unsur naratif, melainkan berfungsi sebagai cermin moral ekologis yang merefleksikan pandangan masyarakat Minangkabau tradisional terhadap relasi manusia dengan alam dan makhluk hidup nonmanusia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis teks sastra. Data penelitian berupa kutipan-kutipan teks kaba Cindua Mato yang merepresentasikan kehadiran dan perlakuan terhadap satwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa satwa direpresentasikan sebagai penanda kosmis, penjaga ruang sakral, objek penundukan, serta sumber pemenuhan kebutuhan manusia. Representasi tersebut mencerminkan etika ekologis yang bersifat simbolik dan hierarkis, di mana alam dan satwa dihormati sejauh memiliki fungsi bagi kepentingan manusia dan tatanan adat. Dalam perspektif ekokritik Greg Garrard, keheningan teks terhadap penderitaan satwa menandai batas moral ekologis yang masih antroposentris. Dengan demikian, kaba Cindua Mato dapat dipahami sebagai arsip budaya yang merekam ideologi ekologis tradisional, sekaligus relevan untuk dibaca ulang dalam konteks kesadaran lingkungan kontemporer.
Copyrights © 2026