Pendahuluan: Kondiloma akuminata merupakan penyakit menular seksual akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV), terutama tipe 6 dan 11 yang bersifat non-onkogenik. Pada kehamilan, lesi dapat tumbuh lebih cepat, lebih besar, atau multipel karena imunosupresi fisiologis serta perubahan hormonal terutama estrogen dan progesteron. Kasus: Seorang perempuan berusia 21 tahun dengan usia kehamilan 28 minggu mengeluhkan benjolan pada kemaluan disertai bau tak sedap dan keputihan sejak 3 bulan yang lalu. Status dermatologis menunjukkan papul eritema multipel bertangkai, konfluens, membentuk cauliflower-like appearance, lembap, berukuran 7 cm x 3 cm pada regio labia minora hingga menutupi vagina. Terapi asam trikloroasetat (TCA) 80–90% mingguan tidak memberikan respons bermakna. Persalinan dilakukan secara sectio caesarea pada usia kehamilan 38 minggu, dilanjutkan bedah eksisi dan elektrokauterisasi empat minggu pascasalin dengan hasil baik tanpa komplikasi. Kondisi janin sebelum, selama, dan setelah terapi dalam keadaan baik. Diskusi: Resistensi terhadap TCA dipengaruhi oleh ukuran lesi dan tingginya hormon gestasional yang memacu proliferasi epitel sehingga bedah eksisi dan elektrokauterisasi menjadi pilihan terapi terbaik. Sectio caesarea dipilih atas indikasi obstetrik, yaitu risiko obstruksi jalan lahir dan perdarahan. Simpulan: Asam trikloroasetat dapat menjadi pilihan yang aman selama kehamilan, sedangkan bedah eksisi dan elektrokauterisasi pascasalin dapat dipertimbangkan sebagai terapi definitif pada lesi yang resisten.
Copyrights © 2026