Dalam tata kelola layanan publik desa, kajiam sebelumnya lebih banyak menekankan kapasitas pemerintah, kelembagaan formal, dan mekanisme administratif, sementara peran aktor informal dengan sumber daya sosial masih belum banyak dijelaskan. Hal ini penting dalam layanan pengelolaan sampah karena keberlanjutan layanan tidak hanya bergantung pada kapasitas penyedia, tetapi juga penerimaan masyarakat sebagai pengguna. Dalam perspektif New Public Governance, layanan publik melibatkan keberagaman aktor (multiple actors), jaringan (networks), dan interaksi dalam penyelenggaraan layanan (public service delivery). Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kiai sebagai aktor informal dalam tata kelola layanan pengelolaan sampah di Desa Panempan, Pamekasan, khususnya dalam komunikasi dan penerimaan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dokumentasi dengan melibatkan pemerintah desa, pengelola layanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan pengguna layanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kiai tidak terlibat dalam pengambilan keputusan administratif, pengelolaan fasilitas, maupun operasional layanan. Perannya meliputi penyampai informasi, pemberi legitimasi sosial, dan mediator komunikasi melalui jaringan sosial-keagamaan, seperti pengajian. Temuan ini menunjukkan bahwa aktor informal dapat berkontribusi dalam New Public Governance melalui sumber daya sosial tanpa menggantikan fungsi institusi formal.
Copyrights © 2026