The sustainability of a tourism village is fundamentally determined by the capacity of social capital and the capability of local human resources to manage rural attractions. This study aims to analyze the strategies for mobilizing human resources in Pulesari Hamlet to develop Pulesari Tourism Village, Sleman Regency. A descriptive qualitative approach was employed in this research. Primary data were gathered through participant observation and in-depth interviews with five key committee members, complemented by institutional documentary reviews. Data were analyzed interactively through data condensation, data display, and conclusion drawing and verification. The results reveal that human resource mobilization strategies are implemented through a blend of participatory leadership, deliberate consensus, functional task rotation, multi-stakeholder partnerships, and local homestay asset utilization. Nevertheless, the management continues to encounter challenges concerning an aging leadership demographic, limited digital literacy, and private residential land tenure constraints. Consequently, revitalizing organizational regeneration and providing consistent thematic workshops serve as vital strategic measures to reinforce the competitiveness of this community-based tourism village. ABSTRAK Keberlanjutan desa wisata sangat ditentukan oleh kapasitas modal sosial serta keandalan sumber daya manusia lokal dalam mengelola daya tarik perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi menggerakkan sumber daya manusia di Padukuhan Pulesari dalam mengembangkan Desa Wisata Pulesari, Kabupaten Sleman. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Pengumpulan data primer dilakukan melalui observasi partisipatif serta wawancara mendalam dengan lima pengurus kunci, yang didukung penelusuran dokumen kelembagaan desa wisata. Analisis data berlangsung secara interaktif melalui reduksi dan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi menggerakkan sumber daya manusia dijalankan melalui perpaduan kepemimpinan partisipatif, musyawarah mufakat, rotasi tugas fungsional, kemitraan lintas pemangku kepentingan, serta pendayagunaan aset hunian warga (homestay). Namun demikian, pengelola masih menghadapi kendala penuaan usia pengurus, keterbatasan penguasaan literasi digital, serta keterikatan status kepemilikan lahan milik warga. Oleh karena itu, penguatan regenerasi kepengurusan dan fasilitasi lokakarya tematik secara berkelanjutan menjadi langkah krusial dalam memperkokoh daya saing desa wisata berbasis komunitas ini.
Copyrights © 2026