Bangunan pendidikan yang tidak mempertimbangkan aspek perilaku pengguna berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis dan performa belajar mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh elemen arsitektural—meliputi gubahan bentuk, pencahayaan, tata ruang, dan warna—terhadap performa belajar mahasiswa. Metode kuantitatif dengan desain explanatory research diterapkan melalui purposive sampling terhadap 73 mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia berusia 18–22 tahun yang aktif menggunakan gedung kampus. Data kuesioner dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk mengidentifikasi kecenderungan preferensi responden. Hasil menunjukkan bahwa 55,3% mahasiswa cenderung memilih ruang open space sebagai lingkungan belajar. Temuan ini mengimplikasikan bahwa keterhubungan manusia dengan alam melalui kebebasan visual dan sirkulasi udara yang baik merupakan kebutuhan psikologis dasar yang perlu diintegrasikan dalam perancangan arsitektur bangunan pendidikan berbasis kesehatan mental.
Copyrights © 2026