Pembelajaran bahasa Arab di lembaga pendidikan Islam Indonesia menghadapi tantangan intensitas pertemuan yang terbatas, berpotensi menghambat paparan bahasa dan pemerolehan bahasa kedua. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak pengurangan intensitas pembelajaran bahasa Arab serta implikasinya terhadap paparan bahasa siswa di Yayasan Tunas Tahfidz Madani. Pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus diterapkan pada sekitar 38 siswa dari tiga cabang: Sedati, Ngagel, dan kelas daring. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara tematik dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil menunjukkan bahwa pengurangan frekuensi dari lima menjadi satu sesi per pekan menurunkan paparan bahasa dan retensi kosakata, terutama kosakata jarang digunakan, serta berdampak paling signifikan pada keterampilan imlā'. Kosakata yang dipraktikkan melalui interaksi kelas harian menunjukkan retensi lebih baik. Metode lagu dan pembiasaan bahasa Arab di kelas terbukti efektif sebagai strategi kompensasi, menegaskan pentingnya paparan berkelanjutan dalam pemerolehan bahasa kedua.
Copyrights © 2026