Komunikasi digital berbasis web menjadi sarana pertukaran informasi yang semakin kritis, namun kerentanan terhadap penyadapan dan pemalsuan identitas terus meningkat. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat lebih dari 350 juta serangan siber yang menarget Indonesia sepanjang tahun 2023, menegaskan urgensi perlindungan kriptografis pada kanal komunikasi berbasis web. Penelitian ini merancang dan mengimplementasikan sistem chat berbasis web yang mengintegrasikan tiga lapisan kriptografi: ASCON-AEAD128 sebagai algoritma enkripsi simetris ringan yang baru distandardisasi NIST melalui SP 800-232 (2025) untuk enkripsi dan autentikasi pesan secara simultan; RSA-2048-OAEP untuk pembungkusan kunci sesi secara asimetris; serta RSA-2048-PSS bersama SHA-256 untuk tanda tangan digital yang menjamin autentisitas dan non-repudiasi pengirim. Seluruh proses kriptografi dieksekusi di sisi klien menggunakan Web Cryptography API (W3C, 2017), sehingga server dan basis data tidak pernah menyimpan teks asli maupun kunci privat. Pengujian fungsional menunjukkan 28 dari 28 kasus uji (100%) berhasil, dengan waktu enkripsi penuh rata-rata 1,20 ms dan dekripsi 0,73 ms. Uji efek avalanche menghasilkan rata-rata perubahan bit pada tag autentikasi sebesar 50,16%, mendekati nilai ideal 50%. Uji ketahanan terhadap pemalsuan membuktikan sistem menolak seluruh skenario manipulasi data, baik pada ciphertext, tag, tanda tangan, maupun kunci sesi. Hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan kriptografi hibrida berbasis ASCON dan RSA layak diterapkan sebagai solusi komunikasi teks web yang aman dan efisien.
Copyrights © 2026