Artikel ini mengkaji secara kritis bagaimana etnis Tionghoa direpresentasikan dalam buku teks sejarah Indonesia yang dirancang dalam kerangka Kurikulum Merdeka. Dengan menggunakan pendekatan analisis wacana kritis dan kerangka teori poskolonial, penelitian ini berusaha membongkar struktur narasi yang cenderung menempatkan komunitas Tionghoa di posisi marginal, sementara kelompok pribumi dijadikan subjek tunggal dari sejarah nasional. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa meskipun Kurikulum Merdeka mengusung semangat kebhinekaan dan inklusivitas, representasi etnis Tionghoa dalam materi ajar sejarah masih menyisakan ketimpangan yang signifikan: kontribusi mereka kerap direduksi menjadi narasi ekonomi semata, partisipasi mereka dalam perjuangan kemerdekaan nyaris tidak tampak, dan identitas mereka lebih sering dikonstruksi melalui lensa kecurigaan historis ketimbang pengakuan kewarganegaraan yang setara. Penelitian ini berpendapat bahwa bias pribumi-sentris bukan sekadar kelalaian editorial, melainkan cerminan dari ideologi kenegaraan yang belum sepenuhnya berdamai dengan pluralitas sejarahnya sendiri. Implikasi dari temuan ini mencakup perlunya reformasi konten buku teks yang lebih radikal, pelibatan komunitas Tionghoa dalam proses penyusunan kurikulum, serta pengadopsian paradigma sejarah multikultural yang melampaui batas-batas etnosentrisme. Artikel ini diharapkan berkontribusi pada perdebatan yang lebih luas tentang keadilan epistemik dalam pendidikan sejarah di Indonesia.
Copyrights © 2026