Kajian ekokritisisme dalam sastra Indonesia berkembang pesat dalam kurun waktu 2016–2026, tetapi masih didominasi paradigma antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat relasi ekologis. Penelitian ini menggunakan Systematic Literature Review untuk menganalisis 36 artikel ilmiah dari basis data Scopus, SINTA, dan DOAJ. Penelitian bertujuan untuk memetakan perkembangan teoretis ekokritisisme di Indonesia serta mengidentifikasi kesenjangan penelitian terkait posthumanisme dan ekokritisisme material. Hasil sintesis mengungkap tiga kesenjangan utama, yaitu Theoretical Paradigm Gap, Genre Coverage Gap, dan Epistemological Synthesis Gap. Sebanyak 82% penelitian masih bertumpu pada ekokritik gelombang pertama, sedangkan kajian yang menerapkan posthumanisme atau ekokritisisme material hanya mencapai 5%. Selain itu, sastra siber dan fiksi spekulatif masih jarang dikaji, sementara integrasi kearifan lokal Nusantara seperti Hutan Larangan dan Mappalette Kayu dengan wacana krisis iklim global belum berkembang secara konseptual. Temuan ini menunjukkan perlunya pergeseran menuju paradigma posthumanisme yang mengakui agensi entitas non-manusia dalam memahami kompleksitas krisis ekologis kontemporer.
Copyrights © 2026