Pemanfaatan layanan kesehatan gigi di Toraja masih berorientasi kuratif, di mana pasien datang hanya saat mengalami nyeri hebat. Praktik saat ini melayani sekitar 10.000 peserta BPJS sehingga terjadi bottleneck dan waktu tunggu panjang. Menyusun strategi pemasaran dan operasional untuk meningkatkan efisiensi layanan serta meningkatkan pendapatan pasien umum (non-BPJS). Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif-analitik berbasis analisis SWOT, PESTEL, dan bauran pemasaran (7P dan 4C) berdasarkan data internal operasional dan pemetaan segmentasi pasar. Implementasi sistem antrean digital, segmentasi waktu layanan, serta edukasi preventif-estetik diproyeksikan meningkatkan pendapatan pasien umum sebesar 30–50% dalam 12 bulan. Proyeksi finansial menunjukkan laba bersih inkremental sekitar Rp10.640.000 per bulan dengan ROI melebihi 150%. Reposisi strategi dari layanan kuratif menjadi perawatan preventif dan estetik berbasis digitalisasi dan diferensiasi layanan mampu meningkatkan efisiensi operasional, kepuasan pasien, dan keberlanjutan finansial praktik.
Copyrights © 2026